History of Menteng — Mantan Mesjid Tangkuban Perahu:DRAFT

CATATAN: Post ini masih draf. Why? Karena, Bahasa Indonesia = second language, jadi mesti pelan-pelan. Sekalian mesti langsung mengakui kekurangan satu dua dari analasis saya yang di bawa:  1) saya bukan arsitek 2) saya hanya kenal pemakaian bangunannya dari luar. (Takut renovasi ini cukup terkaitan dengan pemakaian dari dalam — contohnya mau jadi kantor-kantoran atau floor yang duluh tidak ada atau mungkin AC duluh tidak ada atau kurang habis Jakarta sudah menjadi lebih panas dari jaman duluh.

Mesjid Tanguban Perahu sudah tidak ada lagi. Telah di Katanya renovasikan. Tapi gambar mesjid baru sama mesjid lama (model joglo) tidak sama.  Bedanya duluh sama sekarang agak jauh.

Mantan Mesjid Tangkuban Perahu Sayid Ali Ahmad Shahab

A lost part of Jakarta’s history, built ca. 1870 by a Hadrami religious, political, business figure and journalist, as seen from the Sharehouse ca 2008

Mesjid itu termasuk mesjid-mesjid paling lama di Jakarta — sekalian merupakan bagian dari sejarah Hadrami dan Betawi Jakarta. Diberdirikan tahun 1908 sekitar tahun 1870 oleh wartawan/tokoh Sayid ali bin Ahmad Shabab di tanah yang dia miliki dekat tempat yang sekarang dikenal sebagai Taman Lawang (sekarang Menteng, tapi waktu itu Weltevreden, Batavia).

Sedikit setelah mesjid Sayid ali Bin Ahmad Shabab itu di bangun, dibangungkan mesjid Cut Nyak Dien (daerah Gongdangdia, Weltevreden).

Long story short, tanah Menteng sampai Setia Budi di ambil oleh kuasa kolonial barat sendiri; dengan akibatnya yang juga bisa dibaca dalam Emergence of the Modern Indonesian Elite.

Tentu bangsa Hadrami maupuncabang Singapura atau Batavia (awal abad 20) terkenal sebagai real orang estate yang murah hati:

Menurut Engseng Ho, penulis buku The Graves Of Tarim: Genealogy And Mobility Across The Indian Ocean:

By the early 20th century, Hadrami Arabs were estimated to own two-thirds of Singapore’s real estate. Although those holdings have dwindled, the early days of Hadrami involvement in Singapore are visible today in the form of the Aljunied MRT Station and GRC, Alkaff Mansion and Alsaggof Arab School.

Equally important are their public contributions, including the land on which stand Tan Tock Seng Hospital and the Anglican church.

Besides being sharp businessmen, many Hadramis were pious Muslims. What good was money, if one could not take it into the afterlife? The Prophet Muhammad had said that after death, nothing remains of a person’s life except for three things: continuing good works, beneficial knowledge and a pious son praying for one’s soul.

Mesjid Sejarah Jakarta

“Renovated in 2011” the Tangkuban Perhau mosque in Halimun, Jakarta no longer retains the signature triangles created by the veranda design and will likewise lose the ability to shelter the surrounding area from sun and rain.

Di tahun 1911 dipindakan mesjid Tangkuban Perahu dari kawasan tangsi kavaleri/Cavaleri Kampemen( di antara Jl. Mangunsarkoro dengan Jl. Latuharhari) kepada sebelah selatan dari Kali Malang (foto 2010 lihat kiri). Berarti mesjid bangungan itu– kasian sudah tidak ada lagi — termasuk pendirian-pendirian paling lama di kawasan Guntur/Nieuw Menteng.  (Banjir Kanal pun tahun 1919 — tapi jembatan Kali Malang yang pertama, apa Jl Guntur? JlHalimun?)

Memang cacak sekalian praktis
“sayap” Indische yang memilih arsitek (asli Hadrami? asli Indoensia?): luas sekali dan melindungi orang miskin maupun kaya dari matahari dan hujan.

Jika sebenarnya satu keluarga yang pengurusnya dari jaman Belanda sampai sekarang, terus kenapa di reno? Jakarta Governor Fauzi Bowo — pendorong Betawi juga —  bercerita disini.

Semua renovasi / mengubah bentuk ada plus-minusnya. Paling mungkin, kita mesti tunggu untuk lihat hasil mesjid baru seperti apa.

Tapi, walau dari disain mesjid baru (ternyata yang lama sudah hilang) kaynay cukup besar — kayu-kayunan rasa joglo/Indische  — wah — tidak ada. Saat ketemu sama orang penjaga tanah kosong yang duluh ada mesjid Perahu Tangkuban kemarinan saya tanya Bapak Betawai (itu sudah lama tinggal daerah Guntur).

“Pasti panas minta ampun.” Nah, dia setujuh dengan perkiraan saya.Bedanya utama antara mesjid lama dan mesjid baru pasti itu. Soalnya, pohon daerah sini (Taman Perahu Tangkuban) belum terlalu tinggi (seperti Menteng yang di sebelah Monas). Daerah “hijau” Taman Tangkuban Perahu akan lebih panas. Kenapa:

1) Disain bangunan baru tidak persiapan meberi tempat tendu

2) Pasti pemakian AC lebih banyak (karena mesjid lebih tutup)

Disainya mesjid baru agak mirip masjid Al Hakim yang seberang Formule 1 di Jl Cokroaminoto (Menteng juga).

Mirip Mesjid Sejarah Jakarta Perahu Tangkuban (yang 2011)

After the Renovasi the Tangkuban Perhau mosque will look similar to this one located nearby in Menteng, Plaza, one of Jakarta’s historic centers whose “rebirth” and “regreeing” following the destruction of the old Persija football pitch is still remembered and lamented by many (I never went inside)

2 responses »

  1. Pingback: Embargo, Maulid dan Futuh Mekkah « Ratio Decidendi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s